
Indonesia adalah negara yang memiliki perkebunan kelapa sawit terluas dan produsen minyak kelapa sawit terbanyak di dunia. Karena kegiatan tersebut, pastinya banyak bagian kelapa sawit yang sudah tidak dipakai dan dimanfaatkan ulang.
Salah satu pemanfaatan bagian kelapa sawit yang umum adalah pembuatan sapu lidi. Namun, tahukah Anda bahwa ada bagian dari pohon ini yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak? Ya, namanya bungkil inti sawit atau bungkil sawit.
Artikel kali ini akan mengulas tentang bungkil sawit dan kandungan bungkil sawit yang baik untuk pakan ternak. Simak baik-baik, ya!
Apa Itu Bungkil Sawit?
Bungkil sawit merupakan bagian kelapa sawit yang berupa daging dan batok sawit, hasil dari pemrosesan inti sawit. Pada setiap pengolahan inti sawit, bungkul sawit yang didapat sebanyak 45% dari bagiannya. Banyaknya jumlah bungkil ini menjadikannya salah satu komoditas ekspor.
Bahkan, ekspor bungkil dari Indonesia ke Thailand mencapai Rp8,4 miliar. Tidak hanya diminati di pasar ekspor, bungkil sawit juga banyak dicari masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan ternaknya.
Bagi daerah sentra sawit, pemanfaatan bungkil sawit sebagai bahan baku pakan ternah memang sudah lumrah terjadi. Namun bagi peternak di luar provinsi sentra sawit, permintaan bungkil sawit ini menjadi cukup signifikan.
Kandungan Bungkil Sawit yang Dimanfaatkan untuk Pakan Ternak
Bungkil sawit umumnya digunakan sebagai campuran pakan sapi perah, sapi potong, domba dan hewan ternak lainnya. Serat kasar pada bungkil bisa diurai lagi kandungannya sesuai yang diperlukan oleh ternak.
Kandungan serat kasar pada bungkil terdiri dari 60% polisakarida non pati, yang dipecah menjadi mannan 78%, 3% arabinoxylan, 12% selulosa, dan 3% glucoronoxylan. Pada sapi perah, sebanyak 65% bungkil sawit digunakan sebagai bahan campuran.
Untuk sapi potong, 70% dari jumlah pakannya menggunakan bungkil. Penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian 30% bungkil pada pakan domba mampu menaikkan berat hingga 70 gram/ekor setiap harinya.
Selain itu, kandungan protein pada bungkil sawit juga baik untuk campuran pakan ayam petelur dan babi. Bungkil ini tidak bisa dijadikan pakan ternak sebelum melalui proses fermentasi. Fermentasi tersebut memanfaatkan jamur dan bakteri seperti Rhizopus oligosparus, Aspergilus niger, atau Eupenicilium javanicum. Dengan bantuan bakteri-bakteri ini, kandungan serat kasar pada bungkil akan berkurang sekaligus menambah kandungan protein di dalamnya.
Apabila kesulitan mendapatkan jamur maupun bakteri yang dibutuhkan, bisa disubstitusikan menggunakan probiotik. Contohnya Suplemen Organik Cair (SOC).
Perlu diketahui, sebelum melewati proses fermentasi, kandungan protein bungkil sawit ialah sebanyak 14%. Jumlah ini akan meningkat hampir dua kali lipat setelah proses fermentasi menjadi 23%.
Demikianlah ulasan mengenai bungkil sawit serta kandungannya yang sangat baik sebagai campuran pakan ternak. Semoga dapat menambah wawasan dan memberikan manfaat, ya!