Pagi itu, ruang kecil di TK ABA 4 Kota Blitar sudah ramai dengan suara tawa anak-anak. Di antara warna-warna cerah dinding dan tumpukan buku anak, tampak sosok perempuan berkerudung lembut tengah berbagi cerita lucu di selang waktu istirahat. Wajahnya tenang, suaranya lembut, tapi setiap kalimatnya sarat makna dan ketulusan. Ia adalah Bu Herwanti, sosok yang telah menyalakan cahaya di dunia pendidikan anak usia dini selama hampir dua dekade.
Bu Herwanti lahir di Blitar, 12 Juli 1979. Sejak muda, ia sudah terbiasa dengan lingkungan yang religius. Suaminya adalah seorang tokoh agama yang juga menjadi pembina rohani di RS Islam Aminah, tempat banyak orang datang untuk menenangkan hati. Mereka menikah pada tahun 1998, dan selama enam tahun, pasangan ini menanti buah hati dengan penuh doa dan harap. “Allah mengajarkan sabar lewat waktu,” ujarnya suatu ketika. Dari penantian panjang itu, kini ia dikaruniai tiga putra yang menjadi sumber semangat hidupnya.
Meski tak memiliki latar belakang khusus di bidang Pendidikan Anak Usia Dini, Bu Herwanti tak pernah berhenti belajar. Ia menempuh kuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Tribakti Kediri pada 2009–2013. Namun jauh sebelum itu, dorongan kuat untuk menjadi guru TK muncul dari satu hal sederhana: kecintaannya pada anak kecil. “Mereka jujur, polos, tapi di sanalah letak keindahannya. Saya belajar banyak dari mereka,” tuturnya sambil tersenyum.
Perjalanan panjangnya sebagai guru dimulai pada tahun 2007, ketika ia dipercaya menjadi kepala sekolah pertama TK ABA 4 Kota Blitar. Saat itu, sekolah baru berdiri dan hanya memiliki empat murid dengan ruang kelas seadanya di Jalan Ir. Soekarno. Tak ada kemewahan, tak ada fasilitas memadai, yang ada adalah tekad dan niat tulus untuk menanamkan cinta belajar di usia dini. Ia dan para pengurus Aisyiyah bahkan berkeliling melakukan promosi dari rumah ke rumah, meyakinkan para orang tua agar mau mempercayakan anaknya belajar di TK ABA 4.
Tahun 2009, sekolah berpindah ke gedung baru di Jalan Soetomo atas dukungan Pimpinan Cabang Aisyiyah Sananwetan. Namun pindah tempat bukan berarti tantangan berakhir. Fasilitas terbatas, tenaga pengajar yang sedikit, dan murid yang datang dengan latar belakang beragam membuat Bu Herwanti harus terus mengasah diri. Di titik lelah, suaminya selalu mengingatkan, “Berjuang di Muhammadiyah itu bukan soal besar atau kecilnya hasil, tapi tentang ketulusan niat.” Kalimat itu menjadi penentram sekaligus bahan bakar yang tak pernah padam.
Bu Herwanti membuktikan, semangat dan kesungguhan akan membuka jalan. Ia terus belajar, mencoba berbagai metode kreatif, dan pada tahun 2011 berhasil memenangkan lomba Alat Permainan Edukatif (APE) Kreatif tingkat Kota Blitar. Dari empat murid di tahun pertama, kini TK ABA 4 tumbuh menjadi sekolah yang diminati dengan 60 peserta didik. Setiap langkahnya adalah bukti bahwa ketulusan bisa melampaui keterbatasan.
Tak jarang, Bu Herwanti juga mendapat amanah mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia pernah menghadapi siswa yang memukul, meludah atau menolak perintahnya, namun ia tidak marah. “Saya pernah berjuang keras untuk memiliki anak,” ujarnya lirih, “jadi saya tahu setiap anak adalah harapan dan doa orang tuanya.” Kalimat itu menggambarkan betapa dalam empatinya. Baginya, menjadi guru bukan hanya mengajar huruf dan angka, tetapi mengasuh dengan cinta dan kesabaran tanpa batas.
Dedikasi itu dirasakan pula oleh para orang tua. “Guru ABA 4 bisa mengatasi anak dengan berbagai karakter. Jadi saya tenang menyekolahkan anak di sini,” kata salah satu wali murid, Bunda Azkayra, yang turut menyampaikan apresiasi pada kerja ikhlas para guru termasuk Bu Herwanti. Pengabdian itu pula yang mengantarnya dipercaya menjadi Ketua PD IGABA Kota Blitar selama dua periode berturut-turut.
Sebagaimana lentera yang menerangi tanpa memilih siapa yang menerima cahayanya, Bu Herwanti tak hanya menjadi inspirasi bagi murid dan rekan sejawat, tapi juga bagi keluarganya. Putra pertamanya, Hafidz Insanu Izza, kini mengikuti jejak perjuangan sang ibu. Ia aktif sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan bahkan menjabat sebagai Ketua Komisariat IMM Resurgence Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia tumbuh menyaksikan ibunya mengajar, berjuang, dan tak pernah lelah menebar kebaikan.
Kini, setelah 18 tahun mengabdi, Bu Herwanti masih duduk di ruang kecil itu setiap pagi, menyambut anak-anak dengan senyum yang sama hangatnya seperti dulu. “Kita adalah sinar bagi orang terdekat kita,” ucapnya suatu malam. “Lidah mungkin lelah menyampaikan pesan, tapi pengabdian dan perjuangan adalah suara yang akan terus menggema.”
Bu Herwanti mungkin tidak mencari sorotan, tapi cahayanya nyata. Dari ruang sederhana di Kota Blitar, ia menyalakan lentera yang tak akan padam bagi murid-murid kecilnya, bagi keluarganya, dan bagi setiap orang yang percaya bahwa cinta dan ketulusan adalah pendidikan yang sebenarnya. Fastabiqul khoirot..